Langsung ke konten utama

Keluarlah saudaraku..

(Anis Matta)

Saudaraku

kau tahu bencana datang lagi

Porak lagi negeri ini

Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap

Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu

Sudah sedari lama berbaris-baris memanggil-manggil

Keluarlah keluarlah saudaraku

Dari kenyamanan mihrabmu

Dari kekhusyukan i’tikafmu

Dari keakraban sahabat-sahabatmu

Keluarlah-keluarlah saudaraku

Dari keheningan masjidmu

Bawalah roh sajadahmu

Ke jalan-jalan

Ke pasar-pasar

Ke majelis dewan yang terhormat

Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan

Keluarlah keluarlah sadaraku

Dari nikmat kesendirianmu

Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini

Kumpulkan kembali tenaga-tenaga yang tersisa

Pimpinlah dengan cahayamu

Kafilah nurani yang terlatih

Di tengah badai gurun kehidupan

Keluarlah keluarlah saudaraku

Berdiri tegap di ujung jalan itu

Sebentar lagi sejarah kan lewat

Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya

Sambut saja dia

Engkaulah yang ia cari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

di sebuah senja

merindukan puisi yang biasa lahir dari senjamu kemana gerangan sekarang ia berlabuh? pun senyummu, pun tawamu, pun hadirmu kemana sekarang ia mengaduh?

Tentang debar, deras kata dan hening hujan..

Layar terkembang, kisah kembali dimulai lengkum senyum di ujung senja dan debar yang demikian meraja "Selalu ada berjuta alasan untuk membawamu serta" katamu "Dan malam ini hanya ada aku dengan segudang tanya, dan engkau yang akan memecahkan karang" wajahnya melukis senyum; bimbang. Lalu kita menyusuri malam, berjalan beriring dibawah temaram lampu kota orang-orang lalu lalang, beberapa mengukir tawa sementara kepalaku penuh tanda tanya "apa yang hendak kau tanyakan, duhai?" tatapan mata tak seperti biasanya, aku melihat binar kata-kata berjatuhan dari atas kepala: ia ingin mengatakan sesuatu, tunggulah hingga membuncah sementara bawalah ia menaiki mesin waktu, mengisahkan lampau dimana semua kisah bermula dan terus saja kepala diputari tanda tanya "Duhai..Apa yang hendak engkau katakan?" Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang sofa sesekali matanya memejam sembari berkata sangat pelan "Mengapa tak pernah mati sega...
     Ada yang nanya, kenapa akhir-akhir tulisan di blog saya jadi seperti "hitam, sesak, kelam" apakah itu gambaran diri saya sekarang? Saya tersenyum saat itu, lalu menjelaskan bahwa semua yang saya tulis tidak selalu menggambarkan isi hati, kebanyakan seperti itu malah.     Yang saya tulis biasanya hasil pengelanaan saya ke masa lampau, istilahnya adalah: mengenang. Dari kejadian-kejadian yang saya alami dulu, saya kemudian merangkaikannya menjadi kata-kata, lalu masing-masing kalimatnya saya sayapi biar bisa terbang di langit khayal. saya seperti tenggelam dalam lautan nostalgia ketika membacanya, bagaimanapun saya pernah mengalami jatuh cinta, memendam rasa, rindu bahkan pedih. Entah kenapa, tiba-tiba saja ingin menaiki mesin waktu, menyalakan mesinnya, lalu berkelana ke masa-masa lampau itu, lalu mnuliskannya jadi bait-bait kisah.     Terkadang juga inspirasi tulisan itu datang dari hasil mendengar, atau bahkan mendengar satu pata...