Langsung ke konten utama

Postingan

Perempuan di balik senja

 Seorang perempuan memandang cermin, lusuh, ia sudah tak mengingat kapan terakhir ia membasuhnya dengan lap basah. Debu-debu dipermukaannya, menampakan wajahnya yang juga lusuh ditelan senja. Dalam cermin itu ia melihat bayangan almanak, tepat dipinggir jendela yang memerah karena pantulan matahari senja. Perempuan beranjak, mendekati almanak “sudah tanggal muda, aku lupa membaliknya” ia bergumam, lalu membalikan lembaran kalender yang telah lima bulan terpampang didinding kamarnya. “ah..minggu depan ternyata tanggal lahirku, bertambah lagi umurku” ia mengusap pipinya; kasar. Ia lalu berjalan, mendekati jendela. Sudah senja, langit memerah megah. Sebentar lagi gelap sempurna menggulung terang. Ia masih disana, kembali jatuh kagum pada senja, tempat semua heningnya berhimpun. Ia tersenyum; satir.. “sudah lagi senja, padahal baru saja kulihat arak awan fajar. Satu persatu warna tersibak, cahaya memancar dari timur, menebar warna, semua yang dilaluinya menja...

Harus aku baca puisi

aku harus lebih banyak membaca puisi.. kamu kembali, huruf-huruf terkejut mati. Apa yang bisa dirangkai pada hadirmu yang selalu gemintang? Aku kehilangan kata-kata. Ia hilang seiring pergimu. Pun sisanya layu, mati; tak ada puisi tanpa kamu sebagai bayangan, pencipta seni; tak perlu kurangkaikan kalimat, mereka membentuk sendiri puja dan puji untuk kubacakan didepan rona merah pipimu. Dan kini kamu kembali, aku seperti seorang gagap yang kejatuhan benda langit; bintang..kamu. Apa yang harus kukatakan? apa yang harus aku rangkaikan? huruf-huruf belum kembali pulang.. Apakah aku harus membaca Sapardi? Chairil? atau Iqbal? penyair pujaanmu. Atau aku biarkan saja alam menari, menjadi puisi, untuk kamu? ah..aku harus membaca puisi lagi....

pintu..tentang sebuah pintu

tetiba seseorang mendekat lalu berkata "pintu yang telah kamu berpaling dan menjauh itu terbuka lagi, bilakah kamu berbalik dan mencoba kembali mengetuknya?" "tidak" kataku "aku tak pernah benar-benar mengharapkannya terbuka lalu sang penghuni mempersilahkanku masuk. Aku hanya pengagum kayu jati yang menjadi bahan pintu, pun sang penghuni aku yakin dia adalah sebaik-baik pecinta seni." "bodoh" katanya "kalian akan menjadi sepasang seri, rumah yang dihuni akan dipenuhi barang-barang bercitarasa tinggi. Ada apa denganmu, telah jadikah engkau seorang pengecut dungu?" "kalian tak akan mengerti, para pengagum itu tak selalu ingin memiliki. Terkadang mereka sadar diri, menilai diri dengan langit, jika mereka adalah punuk maka batasnya adalah merindu, cukup sampai disitu. Tak harus mereka menaiki awan untuk memeluk bulan." "kamu membohongi dirimu sendiri" "tanyakanlah pada para perindu, apa mereka ingin selalu ber...

satir lagi

kisah yang sama, berulang, berputar-putar. Tapi aku tak bisa kemana-mana, bumi telah menangkapku. Yang mereka lihat hanya kepalaku, tubuhku terbenam. terkadang ingin berdiri, menangkap satu persatu kunang-kunang yang berputar diatas kepala sedari tadi. Walau tersering ingin sempurna membenamkan diri, lalu melupakan semua ini pernah terjadi..

Satir...

satu titik jeda, aku mengambilnya sebagai tanda. orang-orang sedang riuh, mereka memekik pada sepi. apa yang kamu harapkan pada manusia yang menjadikan mimpinya sebagai alat menipu. mungkin ini kisah paling satir, kamu dipuncak langit padahal mukamu membenam bumi. Atau..kamu yang terlalu meninggikan khayalan, dugaan, perasaan? entahlah, aku hanya ingin sejenak berhenti sekarang, melupakan semua wajah, nama, kisah. lalu menarik kembali masa lalu saat semuanya tak sedekat itu; hanya ada aku dan hidupku. Bukan pertemuan dan tawa yang diwakili kata-kata, tapi sebenar-benar suara dan wajah yang terlihat nyata. kamu tak perlu memutarkan intonasi, telingamu mencernanya sendiri. Terpenting, kamu tak perlu lagi berpura-pura ditemani banyak pemuja padahal kenyataannya pemeluk sejatimu adalah sepi.......

Dunia yang terlupa

mulai nyalakan kembali di dunia yang terlupa cukup sudah bermimpi kini rasaku memutih langitku kan meninggi ini semua akan nyata mengharapkan hujan larutkan nyanyian malamku akankah ku rasa mampu ku tatap kembali dunia yang terbenam terbitku dari mimpi kini saksikan sayapku akan ku lindungi ini semua pasti nyata membasuhkan embun lepaskan nyanyian malamku dapatkah ku rasa @Ariel

Kota Mati

Warna seperti menghilang di kota ini hitam dan putih masa lalu , telah membisu Semua berakhir di sini   tempatku mulai bermimpi m asih menari di sini   langkahmu yang telah pergi Udara ini berubah di kota mati   seperti kisah masa lalu kini membisu Coba dengarku berbisik   suara yang telah mengering   hati ku mati di sini Terdiam dan tak mengerti   Semua berakhir di sini   tempatku mulai bermimpi   masih menari di sini   langkahmu yang telah pergi   masih bertahan sisa mimpi-mimpi ku di kota ini kini bertahan sisa mimpi-mimpi ku di kota ini Semua berkahir di sini t empatku mulai bermimpi h atiku mati di sini t erdiam dan tak mengerti..... @Ariel