aku harus lebih banyak membaca puisi..
kamu kembali, huruf-huruf terkejut mati. Apa yang bisa dirangkai pada hadirmu yang selalu gemintang?
Aku kehilangan kata-kata. Ia hilang seiring pergimu. Pun sisanya layu, mati; tak ada puisi tanpa kamu sebagai bayangan, pencipta seni; tak perlu kurangkaikan kalimat, mereka membentuk sendiri puja dan puji untuk kubacakan didepan rona merah pipimu.
Dan kini kamu kembali, aku seperti seorang gagap yang kejatuhan benda langit; bintang..kamu. Apa yang harus kukatakan? apa yang harus aku rangkaikan? huruf-huruf belum kembali pulang..
Apakah aku harus membaca Sapardi? Chairil? atau Iqbal? penyair pujaanmu.
Atau aku biarkan saja alam menari, menjadi puisi, untuk kamu? ah..aku harus membaca puisi lagi....
gundah yang menjelma kata, lalu menari, bercerita...
Komentar
Posting Komentar