Langsung ke konten utama

Postingan

Mewangi bunga dunia

Dunia indah di ciptakan menawan hati Kadang menggoda Jelita di pandang terasa harum Semerbak mewangi bunga dunia Mencinta tiada akhirnya Merindu menjadi pilu Mendamba entah pastinya Terlena hampa sembilu Wahai diri berapa lama lagi Kau terus begini Terus menghianati Kapankah lagi Engkau kan kembali Berserah diri Setulus sepenuh hati Tundukan pandangan mata dan hatiku Dari gemerlap dunia yang palsu memperdaya jiwa Ku memohon kepadamu Yaa Rabbi Selamatkanlah duniaku dan akhiratku yang pasti Ampuni dosa khilafku Dimasa laluku kini dan nanti (Tazakka)

Denganmu semua menjadi sederhana

semua hal menjadi sederhana jika denganmu bagaimanapun kabut, engkau selalu menjelma matahari walaupun hujan badai, engkau selalu menjelma pelangi "aku merasakan beban berat, lelah, penat" kataku di suatu senja lalu engkau tersenyum, sesederhana itu lalu segala beban, lelah, penat itu menjadi kumpulan debu engkau tiup, lembut, hingga tiada satupun tersisa di jemariku "tenang saja, apapun itu aku akan selalu untukmu" katamu, masih dengan senyum lalu aku pun mengukirnya juga sama, senyum, cerah, tenang. "mari bersama memetik tentram, kelak engkau akan selalu melihatku dekat walau jarakmu tak lagi dekat, walau matamu terhalang hijab" ucapmu lalu aku beranjak, berjalan seringan kapas, diterbangkan angin yang dihembuskan senyummu terima kasih, sungguh, denganmu semua menjadi sederhana..

Ya Rasulullah

Yang aku cintai adalah dia. Belum pernah mata menatap, tapi hati jatuh sejatuh-jatuhnya jatuh; debar, cinta, rindu..Ya Rasulullah Aku merindumu, maka aku mengenangmu, menyebut namamu, penuh dengan cinta yang meluap haru.. Lalu harapku; menemuimu di telaga kautsar, membersamaimu sedekat jari jemari, menatap teduh wajahmu..luap, meluaplah semua rindu Jika merindumu saja sedemikian haru, apalah jika benar-benar kupandang indah wajahmu..Ya Rasulullah, terima kami sebagai umatmu  Tetiba rindu..tetiba debar..jika cinta adalah mata yang mendamba jumpa, inilah aku yang benar-benar ingin menatapmu..Ya Rasulullah

Aku, kamu, cinta..

    Suatu pagi di ruangan kelas Tahfidz Qur’an. Seorang lelaki paruh baya, berkoko putih dan berjenggot tipis memasuki ruangan. Ia berjalan cepat dan terlihat memegang beberapa berkas dan Mushaf Qur’an. Aku memandanginya hingga ia menyimpan berkas-berkas itu di meja dan duduk di depan kami semua.     “Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuuh..teman-teman semua, perkenalkan ana Ahmad Zainul Haq, Insya Allah ana yang akan membimbing antum semua selama disini. Mohon kuatkan azzam , keikhlasan, agar selama disini Allah memudahkan langkah-langkah kita, mewujudkan cita-cita kita dan melayakkan kita menjadi pemanggul amanah besar sebagai penjaga kalam-Nya, insya Allah. Baik sebelum mulai kelasnya, ana mau bertanya terlebih dahulu. Adakah disini yang sudah siap menikah?”     Kami terkejut mendengar pertanyaan Ust. Ahmad, dihari pertama kami.   Yang ditanyakan bukan tentang kesiapan atau sudah berapa banyak hafalan kami, tapi beliau m...

Tanda tanya

"Aku akan menghapusmu" kiraku. Lalu tanda tanya, prasangka, sakit..sakit? Bukankah terlalu sering ia menghujamkannya? Apakah telah bebal wajah, kebal rasa, mati jiwa? Mari berbela sungkawa

02. 19

Tak seorang pun yang mampu memburamkan hariku, menghitamkan matahari, memusarkan badai. Pun kamu...yang berulang kali menabur kelabu

Keluarlah saudaraku..

(Anis Matta) Saudaraku kau tahu bencana datang lagi Porak lagi negeri ini Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu Sudah sedari lama berbaris-baris memanggil-manggil Keluarlah keluarlah saudaraku Dari kenyamanan mihrabmu Dari kekhusyukan i’tikafmu Dari keakraban sahabat-sahabatmu Keluarlah-keluarlah saudaraku Dari keheningan masjidmu Bawalah roh sajadahmu Ke jalan-jalan Ke pasar-pasar Ke majelis dewan yang terhormat Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan Keluarlah keluarlah sadaraku Dari nikmat kesendirianmu Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini Kumpulkan kembali tenaga-tenaga yang tersisa Pimpinlah dengan cahayamu Kafilah nurani yang terlatih Di tengah badai gurun kehidupan Keluarlah keluarlah saudaraku Berdiri tegap di ujung jalan itu Sebentar lagi sejarah kan lewat Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya Sambut saja dia Engkaulah yang ia cari