Suara-suara berlarian di sekitar kepala. Aku mendengar tapi mata tak menangkap wujudnya: semu.
Entah apa yang kucari, wajah-wajah, percakapan, sandiwara, citra, rindu? Benarkah aku merindu?
Malam yang memeluk, sementara mata menerawang jauh, melipat jarak. Lalu khayal mulai memainkan drama, melukis wajah lalu masing-masing memainkan peran. Dan selalu saja kamu, kamu dan kamu. Rindu?
Mata terbuka memang, namun sejatinya ia hidup dalam pejam. Terabai semua di sekitar, padahal mereka nyata, dapat kau rasakan seperti hujan yang menampar-nampar wajah.
Lalu kemanakah matahari? Bangunlah, segala disekelilingmu adalah taman bunga, sesekali bahkan bisa engkau lihat pelangi. Lalu rasakanlah segala tentram itu menelusup hingga ke dalam ufuk hatimu. Kamu? Juga aku.
Apakah itu artinya kita harus berhenti..merindu?
gundah yang menjelma kata, lalu menari, bercerita...
Komentar
Posting Komentar