Ia yang tak lagi menjadi gemuruh
apa kabar merah senjamu?
apa kabar gemintang langitmu?
maafkan aku, garis telah ditulis sekarang
aku di tepi tebing dan kamu ditebing lainnya
jurang yang memisahkan; bilakah kamu berani melompatinya?
sesekali mengingat, namun hanya itu
aku telah sempurna menanggalkan harapan
bahkan untuk sekedar duduk-duduk ditepi tebing pun telah aku tinggalkan. Aku terlalu sibuk dengan taman.
Masing-masing dari kita menahan sapa
bahkan untuk saling melempar batu pun kita tak kuasa
Aku menamainya kematian
namun pada hal yang semestinya ditangiskan
aku malah bersorak senang, melompat-lompat dengan mata terpejam dan senyum yang terangkai
merayakan kematian, kepergian...
gundah yang menjelma kata, lalu menari, bercerita...
Komentar
Posting Komentar